Showing posts with label me and my story. Show all posts
Showing posts with label me and my story. Show all posts

July 07, 2013

Kado Terindah

Sore tadi saya berkunjung ke rumah seorang kawan. Saya berencana mengembalikan barang yang saya pinjam sebelumnya. Kawan saya sebenarnya tidak ada di rumah. Tapi saya tetap memutuskan ke rumahnya. Saya pikir ini lebih baik dibanding dia yang harus ke rumah saya, tentu akan merepotkan. Toh di rumahnya ada Sang Bunda yang sudah saya kenal dengan baik.

Kedatangan saya disambut oleh ibu kawan saya tersebut. Kalau saya tak salah hitung, rasanya sudah hampir setahun saya tak berjumpa dengan beliau. Sebelumnya beliau sempat terserang strok ringan. Maka, ketika saya mendapati ibu kawan saya ini tampak jauh lebih sehat dibanding hari-hari yang lalu, saya menjadi begitu senang. Allah sebaik-baik Penyembuh.

Saat itu saya tak menyangka bahwa suasana begitu cepat berubah menjadi sedemikian melankolis.

Awalnya kami saling bertukar kabar. Ini tentu bukan sekadar basa-basi. Di dalam tanya tentang kabar itu sejatinya terkandung rasa syukur atas kehidupan yang terjalani. Tak lama berselang, saya menemukan mata Sang Bunda mulai berkaca-kaca. Tepatlah dugaan saya. Beliau teringat kondisi saya yang memang tak lagi memiliki orangtua. Rasa iba yang mendalam tergambar dari airmatanya yang perlahan menetes.

Saya terdiam sejenak. Saya mencoba melemparkan senyum yang terasa getir. Mata saya mulai memanas. Yaa Rabb, saya tak ingin menangis di depannya. Saya sesungguhnya ingin sekali mengatakan dengan lantang bahwa saya baik-baik saja. Saya tak sendiri, masih ada kakak-adik serta saudara yang senantiasa mendukung dan menguatkan langkah saya. Namun, suasana haru begitu cepat merasuk ke dalam kalbu. Speechless.

"Alhamdulillah keluarga udah bisa menerima kondisi ini, Bu," ujar saya sambil mencoba menahan airmata air tak tumpah.

Saya lalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Obrolan sempat teralihkan seputar pekerjaan dan bercerita tentang kondisi kesehatan ibu kawan saya. Tak lupa terselip pertanyaan umum seputar kapan saya menggenapkan separuh Dien. Suasana sejatinya belum benar-benar kembali normal. Saya masih juga memendam haru, apalagi saat ibu kawan saya ini terdiam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang setimpal dengan pertanyaan "kapan menikah?". Ah, ini tentu kesalahan saya. Bahwa saya tak bisa dengan segera menangkap apa yang ingin ia disampaikan mengingat efek strok masih membuatnya kesulitan berbicara.

"Sudah punya pacar?" begitu pertanyaan yang akhirnya diajukan.

Saya tersenyum. Tersadar bahwa suasana mellow ini tak hanya disebabkan karena rasa iba Sang Bunda akan kondisi saya saat ini, tetapi juga karena saya yang memang mudah sekali terenyuh dengan sosok perempuan yang begitu keibuan di hadapan saya. Mungkin, saya merindukan masa-masa berbincang dengan  ibu saya sendiri.

"Belum. Mohon doanya aja yaa Bu," pinta saya.

"Iya. InsyaAllah pasti datang. Allah sudah siapkan," katanya lembut.

Keharuanpun hadir kembali.

Tak sampai lima belas menit saya di sana, saya akhirnya memutuskan untuk pamit pulang. Sesungguhnya saya ingin sekali berbincang lebih lama dengan beliau. Tapi kondisi kami berdua sepertinya tidak cukup baik. Ibu kawan saya sesekali masih meneteskan air mata saat memandang wajah saya. Sayapun tak sanggup berlama-lama menahan bendungan airmata. Saya tak ingin larut.

Sesampainya di rumah, saya sempat mampir sejenak ke rumah saudara, menyeruput es kelapa muda bersama tante dan sepupu saya. Hari ini tante saya ulang tahun. Tanggalnya sama dengan kelahiran saya. 7 Juli.

Saya lalu pulang. Dan memutuskan untuk tidur sejenak hingga waktu maghrib. Kegiatan menangis -entah kenapa- selalu saja membawa efek lelah dan mengantuk buat saya. Mungkin itu juga yang membuat saya "benci" dengan aktivitas yang satu itu.

Saat waktu shalat maghrib tiba, saya terbangun. Air mata saya tumpah lagi. Faktor utamanya karena saya bermimpi dan dalam mimpi tersebut saya mendengar suara ayah memanggil-manggil nama saya -mungkin menyuruh saya sholat-. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya bermimpi tentangnya. Meski kali ini hanya suara ayah yang terdengar, tapi saya sudah begitu puas. Saya pikir, ini adalah kado terindah yang Allah berikan di hari ulang tahun saya.

Sesungguhnya sejak tiga tahun yang lalu saya tak terlalu menspesialkan hari lahir. Saya memutuskan menganggapnya sebagai hari-hari yang biasa. Sayapun tak lagi mengucapkan milad ke teman-teman yang berulang tahun. Terkadang kita memang butuh momen untuk saling berkirim doa dan memberi hadiah. Tapi, di hari lainpun sebenarnya bisa juga dilakukan.

Hanya, saya tetap tak bisa menafikan bahwa keluarga besar saya menganggap hari ulang tahun itu sebagai hari yang spesial. Tentu tak ada tradisi tiup lilin atau pesta yang berlebihan. Hari ulang tahun biasanya diisi dengan syukuran, kumpul-kumpul keluarga, makan-makan, dan memberikan doa terbaik kepada yang berulang tahun.

Di keluarga saya sendiri, ayah selalu menjadi orang pertama di rumah yang memberikan ucapan milad. Kadang, ia mengawalinya dengan sebuah pesan singkat di handphone. Atau langsung memberi ucapan selamat saat matahari mulai terbit. "Selamat ulang tahun, Cantik," katanya sambil mengecup kening saya.

Ini adalah tahun pertama saya kehilangan "ritual" milad tersebut. Dan rasanya sedih sekali.


***
di balik 3 jendela,
7 Juli 2013 pk. 23.55 wib
Terima kasih atas doa terbaik yang dihaturkan oleh keluarga dan sahabat kepada saya hari ini.
Semoga Allah mengabulkan.

April 20, 2013

Pelayan Professional

Tadi malam saya dan kawan-kawan ditraktir makan di Roti Bakar Edi (RBE) Cabang Margonda yang belum lama buka. Lokasinya di seberang Gramedia Depok. Strategis banget kan? Tempatnya juga cozy. Ada dua lantai dengan parkiran yang cukup luas. Tapi yang bikin saya heran sebenernya adalah warga Depok -dan Jakarta- kok kayaknya konsumtif banget yaa? Di RBE yang baru buka, pengunjungnya rame. Warung makan yang lain juga kok kayaknya nggak pernah sepi. Yasudahlah #abaikan.


Berhubung saya dan Upa dateng belakangan, kamipun jadi orang yang paling telat memesan makanan.  --Alhamdulillah yah, yang ntarktir masih mau nungguin saya dan Upa yang sebelumnya ada urusan, hehe-- Oke. Pesanan saya sederhana saja. Roti bakar plus es teh MANIS. Upa sendiri memilih kwetiau goreng dan air mineral botol yang dingin.

Beberapa saat kemudian, roti coke saya datang. Disusul oleh kwetiau pesanan Upa dan beberapa menu  tambahan yang juga dipesan teman. Tapi minumnya belum diantar. Oh, yaudah, ditunggu lagi aja.

Pesanan minuman yang tak kunjung datang awalnya sempat terabaikan. Saya dan Upa toh masih asyik mengobrol. Hingga rasa seretpun mulai hadir di kerongkongan Upa. Saya sih biasa minum di awal atau setelah makan. Tapi buat beberapa orang, minum di selasela aktivitas makan itu perlu.

"Kok minumnya belum dateng juga yaa?" tanya Upa.

Mie dan roti di atas piring tinggal setengah porsi lagi tapi minumnya belum jua datang.

"Entahlah," balas saya bingung.

Upa lantas memanggil seorang pelayan. Sang Pelayan kemudian datang dan menghampiri meja kami. Ia mengangguk-angguk saat Upa mengonfirmasi pesanan kami yang belum diantar. Sayangnya, yang saya amati, Si Masnya kok kayaknya lagi ribet yah. Saya khawatir permintaan kawan saya itu dianggap angin lalu saja. Yang saya tangkap, ada beberapa pengunjung yang juga meminta pesanannya segera diantar. Sebenarnya saya melihat pelayannya sudah cukup banyak, tapi entah kenapa segalanya jadi tampak ribet.

Dan keraguan saya pun terjawab. Beberapa menit berlalu sedangkan minuman kami tak kunjung diantar.

Upa, yang memang sudah kehausan, memilih untuk menghampiri seorang pelayan lain. Dari kejauhan, saya melihat Upa berbincang dengan pelayan yang sedang membawa dua gelas jus stroberi di atas nampan. Saya nggak bisa mendengar apa yang Upa bicarakan. Tentunya soal pesanan kami sih --yaa memang apalagi :P-- Namun tak lama, Upa kembali ke tempat duduknya.

"Seandainya semua pelayan bisa bersikap professional, yah!" celetuk saya.

Upa yang masih nggak ngerti saya ngomong apa cuma bisa menatap saya lekat. Mungkin dalam hati dia mau bilang, "Maksudnya?"

"Tadi aku ngeliat Masmas Pelayannya serius banget dengerin pesanan Upa. Kalau yang sebelumnya kan kayak nggak konsen gitu. Feeling aku pesanannya bakal diantar sebentar lagi, nih!" lanjut saya.

"Sayang nggak tahu namanya. Kalau tau kan aku bisa panggil dia lagi."

Ah! Do you know?
Pesanannya benarbenar diantar oleh pelayan yang disambangi Upa, loh!

Rasanya senang aja gitu menemukan ada pelayan yang menjalankan tugasnya dengan baik. Bukan juga karena pembeli adalah raja yah, tetapi ketika seseorang bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya --nggak mesti seorang pelayan restoran-- saya sungguh mengapresiasinya.

Dan tak lama setelah Sang Pelayan menjauh dari meja kami, saya berseru ke Upa, "Aku tahu siapa nama pelayan itu!"

Buat temanteman yang suatu saat nanti ke RBE Margonda, isengiseng perhatikan pelayan dan nama yang tertera di dada kanannya deh. Hahaha. #PentingBanget :P


***
di balik 3 jendela,
21 April 2013 pk. 23.55 wib
di antara beritaberita membahagiakan. Baarakallahu lakuma :)

*foto dari sini

March 19, 2013

Cerita Maret

Holaaa...

Rasanya (lagi-lagi) menyedihkan saat menyadari bahwa tulisan yang saya buat setiap bulannya hanya satu saja. Ah, kalau seperti ini jadi ingat SMS Pak Iwan, salah satu teman di blog Multiply dulu. Beliau bilang, "Ayo, aktif ngeblog lagi, Mbak."

Nah, kan ketauan kalau saya memang jarang sekali menulis sejak awal tahun 2013 ini -___-"

Kriiik.. Kriiik... Akibat terlalu lama nggak menulis akhirnya otak tumpul, ide-ide sulit diikat, dan rasanya canggung. Ini juga saya memaksakan diri untuk menulis sebenarnya. Jelaslah kalau isinya hanya racauan saja. Tapi mau bagaimana lagi, apa yang ada di kepala saat ini ingin dituangkan saja. Hmmm... belum semua bisa dituangkan sebenarnya.

Saat saya mengetik tulisan ini, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Harusnya saya sudah tidur karena esok agenda lumayan padat merayap. Tsaaah... Tapi beberapa pakaian masih dalam proses pencucian. Hoho.. emak-emak sekali, bukan? Begitulah, kadang saya ingin beralasan kalau belakangan sebagian waktu saya banyak tersita untuk pekerjaan rumah tangga yang entah mengapa tak ada habisnya >__<"


Ini gambarnya random aja lah yaa. Saya cuplik secara asal dari lepi -kayaknya si adek yang download. Tapi kalo mau diinterpretasikan, mungkin ini bisa jadi perwakilan diri saya yang ingin bilang: "saya ngantuuuk... tapi cucian belum selesai dibilas."

BTW, belakangan saya berusaha menanamkan jargon ke dalam diri saya: MENGELUH ITU MEMBUANG WAKTU!" Yaa seperti sekarang ini. Mungkin saya sedang mengeluh, meski lewat tulisan. Tapi seharusnya saya bisa mengerjakan pekerjaan lain, kan yaa? Update info2 lomba misalnya --tau nggak? postingan saya yang berjudul Daftar Info Lomba Menulis 2013 itu cukup memberi kontribusi besar atas bertambahnya kunjungan di blog saya ini loh. asik asikkkk-- ; atau saya bisa melakukan hal yang lain --yang lainnya itu apa aja, aduuuh, ini udah tengah malam, saya males mikir lagi, huhu--

.
.
.

Yaudah deh yaa... sekian cerita saya di bulan Maret. Nggak jelas banget yah?
Loh, kamu baca tulisan ini sampai akhir? Hebat! Padahal isi tulisan ini aseli nggak penting!
Tapi, terima kasih karena sudah membaca sampai akhir. ^__^

Doakan ke depan Ai bisa lebih handal dalam membagi waktu hingga bisa aktif ngeblog lagi. Tentunya berharap yang tertulis hanya yang bermanfaat saja. Tentang tulisan kali ini, mohon dianggap sebagai pengecualian. Anggap saja saya sedang melemaskan otot-otot jemari lagi ^^v

Oyasuminasai, minna....!

***
di balik 3 jendela,
19 Maret 2013 pk. 12.10 wib
pesan sponsor: cuci kaki cuci baju sebelum tidur ^^"

February 10, 2013

One Day with Asma

Holaaaa...

Aih aih, lama nian saya tak mampir ke blog yang satu ini. Tentunya bukan karena nggak cinta atau karena nggak sayang, tapi tepatnya sih karena lagi males nulis. Duh, klise banget yaa? Dan berhubung modem sebulan nggak diisi, jadinya yaa gini deh. Malesnya berlipat-lipat. #MohonJanganDitiru

Apa kabar man teman? ^__^

Hari ini saya kedatangan tamu spesial. Namanya Asma. Bukan Asma Nadia tapi yah? Hihi. Dia Asma, adik kelas saya di kampus.Setelah kami lulus, tak sengaja saya bertemu kembali dengannya di departemen tercinta. Dari hasil ngobrol-ngobril, diketahuilah kalau adik yang satu ini suka membaca dan menulis juga. Maka, kunjungannya kali ini pun terkait dua hal itu, tepatnya, Asma ingin diajarin cara bikin blog.

Asma and her notebook
Seneng deh kalo ada yang minta diajarin bikin blog. Meski aku nggak jago2 banget dalam hal pengoperasian blog termasuk bagaimana mempercantik tampilannya, tapi minimal bisa berbagi ilmu dasar seputar blogging. Harapannya, ini jadi awalan bagi Asma untuk terus menulis. Bagaimanapun, saya pikir, punya hobi nulis tapi nggak punya blog rasanya kurang lengkap aja. Bukan begitu?


***
di balik 3 jendela,
10 Februari 2013 pk. 18.02 wib
Sssst.. sebenarnya judulnya agak lebay. Asma nggak seharian di rumah saya kok. Dia berkunjung dari siang hingga sore aja. ^^v

December 02, 2012

Banyak Bercerita Sedikit Menulis

Rasanya agak shock juga. Dari 30 hari yang bergulir di bulan November, ternyata saya hanya menyumbang satu tulisan untuk blog ini. Bahkan kegiatan membacapun seolah ikut-ikutan membawa progress yang buruk. Hanya satu buku yang tuntas dibaca. Itupun buku yang sudah beberapa bulan lalu saya cicil halamannya. Haissh..

Saya lantas teringat sebuah komen dari Desti di postingan saya sebelumnya:

"Jika tidak menulis biasanya seorang wanita akan bercerita.. dorongan ini tidak bisa ditahan.. jika tidak dua2nya dia tidak sedang berfikir, tapi sedang merasakan sesuatu yg tidak mudah atau tidak seperti biasanya untuk dibagi."

Tepat sekali!

Akhirnya saya menyadari bahwa apa yang disampaikan kawan saya tersebut ada benarnya juga. Dulu saya biasa menulis di kala malam sebelum mata terpejam. Waktupun masih teramat luang saat itu. Jadi sedikit-sedikit masih ada kesempatan untuk menulis. Hampir setiap hari, ada saja kisah yang saya tuangkan ke dalam blog. Begitulah, saya memang senang bercerita lewat media apapun. Tapi lain dulu lain sekarang. Aktivitas yang mulai padat namun kebutuhan untuk berbagi cerita justru meningkat tajam, membuat saya akhirnya tanpa sadar tak lagi memasukkan kegiatan updating blog ke dalam prioritas utama.

Saya kemudian memilih cara yang lebih instan: berbincang dengan seseorang.

Bersyukur saya memiliki adik yang merangkap sebagai teman curhat. Sebenarnya aktivitas berbagi cerita telah saya lakukan semenjak kepergian ibu beberapa tahun yang lalu. Saat itu adik saya masih duduk di bangku SMA dan rasanya perlu untuk didampingi. Saya lalu mencoba menjadi pendengar yang baik seperti yang ibu lakukan dulu. Lumayanlah, dengan sedikit pancingan cerita, adik saya perlahan-lahan mulai terbuka untuk menceritakan hal-hal menarik yang ia dapatkan selama di sekolah.

me and my lovely sister
Seiring waktu yang bergulir, kebutuhan bercerita itu bukan hanya milik adik saya. Sayapun sering mengambil alih waktu curhatnya, memintanya untuk gantian mendengarkan kisah yang saya alami. Begitulah, di kala pagi, saat mematut di cermin sambil mengenakan jilbab segi empat kami, akan ada satu dua cerita yang terlontar dari mulut yang satu dan sepasang telinga yang siap mendengarkan dari yang lain.

Dan belakangan, kebutuhan bercerita itu rasanya semakin memuncak. Kami lantas secara otomatis menambah jam curhat, seringnya selepas kami beraktivitas di luar rumah. Kadang sambil makan, di lain waktu sambil bersantai di ruang tengah, bahkan tak jarang saat kami sudah dalam posisi siap untuk menuju pulau kapuk. Entah siapa yang memulai curhat duluan, tak jadi soal. Hingga tak terasa satu dua jam terlewati hanya untuk sesi berbagi cerita itu. Apa yang ingin disampaikan telah semuanya dimuntahkan. Menulisnya kembali ke dalam blog? Oh, saya sudah mengantuk, kawan!

Dan boleh jadi, paragraf demi paragraf yang saya tulis ini -lagilagi- hanyalah sebuah bentuk pembenaran atas ketidakmampuan saya mengelola waktu dengan baik. Harusnya saya sudah bisa mengatasi ke-jetlag-an saya akan hal-hal baru yang dua bulan terakhir harus saya jalani. 

Kemudian teringat obrolan dengan Mba Elita saat kami mengunjungi Penerbit Gramedia pekan lalu. "Mumpung masih single, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menulis." Ah, rasanya ini bukan kali pertama saya mendapat nasehat semacam ini. Tapi pesan teman di grup menulis saya tersebut seolah menjadi pengingat kembali agar saya bisa serius dalam menyisihkan waktu saya untuk menulis. Ini juga harusnya yang menjadi motivasi saya, apalagi jika mengetahui bahwa yang memberi nasehat itu adalah para ibu rumah tangga atau working mom yang tetap produktif menulis.

Baiklah, mengawali bulan Desember ini, mari mengumpulkan semangat menulis dan membaca kembali! Yosh! Saya pasti BISA!! ^^b

***
di balik 3 jendela,
1 Desember 2012 pk. 23.14 wib
 dan mimpi bertemu ayah serasa menjadi pembuka yang manis di akhir tahun ini :)

September 25, 2012

Hari Ini Udah Sedekah?

"Kai, hari ini udah sedekah?" tanya adik saya malam tadi. sudah menjadi sebuah rutinitas bagi kami untuk berbincang tentang berbagai hal. Ada kalanya sesi curhat dikuasai oleh saya. Tapi tak jarang pula Si Bungsu ini mengambil jatah waktu cerita saya.

Tapi pertanyaan itu mau diarahkan ke mana?

"Belum," jawab saya singkat. Ah, apakah ini sebuah teguran? Kalau iya, duh, saya jadi malu sendiri. Hari ini saya memang belum bersedekah.

Saya masih memeriksa pesan di Whatsapp dan notification di Facebook sesaat setelah charger ponsel saya terhubung dengan listrik. Hingga kemudian adik saya kembali bertanya hal yang sama, "Hari ini udah sedekah?"

"Belum. Emang kenapa?" tanya saya balik. Saya benar-benar tertarik. Ada apa sih? Saya jadi curiga adik saya ini hendak menawarkan kupon infak atau proposal agar saya bisa menjadi salah satu donatur kegiatan di kampusnya. #KiriBanget ^^v

"Kalau dhuha?" Si Adik masih saja bertanya tanpa memberi sedikitpun penjelasan.
"Iya," aku saya.

Sampai di sini saya berubah pikiran. Mungkinkah saya akan mendapat rezeki yang tak disangka-sangka? ^^a

"Lo dapet sepatu," katanya sambil tersenyum. Oke. Saya masih tak bergeming meski dalam hati mulai terkejut. "Tadi kan gue beli sepatu sama Mauli. Ternyata beli dua dapet satu. Jadi satunya lagi buat lo."

HAH? Hontou ni???

Saya lantas menuju kamar tempat adik meletakkan sebuah plastik berisi dua kotak sepatu, satu untuknya dan satu lagi untuk saya. Saya kemudian mulai bertanya tentang kronologi kejadian pada adik sambil meraih kotak warna pink di dalam plastik. Sepasang sepatu warna merah tersimpan rapi di dalamnya. Entah apa yang ada di pikiran sang adik melihat kakaknya tampak begitu gembira. Oh, ya, saya memang sangat gembira dengan hadiah tak terduga ini. Baru saja kemarin adik saya cerita kalau ia berencana untuk membeli sepatu. Sayapun demikian. Tapi tak menyangka kalau ternyata sedang ada diskon di toko tempat ia berbelanja. Dan akhirnya adik saya dan temannya bersepakat untuk menghadiahkan sepatu itu untuk saya.

Alhamdulillah wa syukurillah..

Bersyukur sekali atas nikmat Allah yang satu ini. Bukan hanya karena rezeki ini hadir di saat yang tepat. Tapi juga karena sepatu itu amat pas di kaki -padahal awalnya saya sempat khawatir si adik memilih ukuran yang salah dan tak ada kesempatan untuk menukarnya-. Sayapun menyukai warna dan model sepatu yang dipilihkan adik itu.

Simple dan nyaman dipakai.

Rasanya baru tadi pagi saya mendengarkan kisah yang disampaikan ustadzah di halaqah Quran. Ustadzah bercerita bahwa temannya, saat pulang kampung ke Solo, mendapatkan rezeki berupa dilancarkan perjalanannya hingga selisih waktu antara si teman dengan rombongannya ketika tiba di kampung halaman mencapai 12 jam. MasyaAllah. Tentu tak ada yang kebetulan.

Bahwa Allah akan memudahkan urusan siapa saja yang Ia kehendaki. Karena Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Allah akan mencukupkan rezeki bagi setiap hamba-Nya. Lalu mendatangkannya dari arah yang tak disangka-sangka. Dan saya merasakannya. Sekali lagi.

Maka, nikmat Allah yang manakah yang akan saya dustakan?

***
di balik 3 jendela,
25 September 2012 pk. 23.50 wib
It's time to move on! ^o^

September 24, 2012

Dia Bilang Saya Introyeksi

Kalau dulu -saat kepergian ibu- seorang kawan mengatakan bahwa saya menderita mania disorder, kini -saat ayah tiada-, adik saya bilang kalau saya introyeksi.

Suatu malam, saya berpapasan dengan adik yang sedang menyusuri jalan, hendak menyeberang ke arah gang rumah kami. Dia baru pulang kuliah sedangkan saya baru selesai mengajar. Saya yang saat itu mengendarai motor langsung berhenti sejenak menyapanya.

"Kok lo nggak muter di IISIP?" tanyanya kemudian. Biasanya saya memang mengambil arah putar balik, lalu bersama motor-motor "nakal" lainnya, saya akan melawan arus menuju gang rumah yang jaraknya kurang dari 100 m dari arah putar balik tersebut. Ini bisa dibilang langkah penghematan waktu dan bensin. Pasalnya, saya baru akan menemukan arah putar balik 1 Km lagi.

"Gue ingat pesan ayah. Kata ayah, lebih baik muter di Gardu aja," jawab saya. Sebenarnya setelah ayah memberikan pesan itu, saya tak melulu melaksanakannya. Tapi beberapa hari setelah ayah meninggal, saya terdampar pada sebuah tulisan di blog yang merangkum pesan ayah tersebut. Saya akhirnya diingatkan kembali lewat tulisan yang saya buat beberapa waktu yang lalu itu.

"Ayah juga kasih pesan itu ke gue, tapi gue tetap muter di IISIP," ujar adik.
"Iya sih. Tapi entah kenapa gue tetep pengen ngejalanin pesan ayah itu."
"Itu namanya introyeksi."
"Introyeksi itu apa?"
"Karena lo sebenernya merasa kehilangan ayah, makanya menjadikan pesan itu sebagai upaya lo melepas rasa kangen ke ayah."

Saya terperangah. Begitukah?

Kalau dulu mahasiswa yang kuliah di Jurusan Biologi dianggap kurang kerjaan karena sering mengamati hewan atau tumbuhan, saya jadi berpikir hal yang sama dengan para psikolog atau konselor. Mereka seolah kurang kerjaan: meneliti tingkah laku seseorang, menghubungkannya dengan teori-teori yang ada dan katanya ilmiah.

Saya heran saja. Kok bisa adik saya menyimpulkan bahwa saya lebih tepat dibilang kangen ayah dibanding saya sedang berupaya menjalankan pesan-pesan almarhum yang dirasa baik dan patut untuk dijalankan? Tapi akhirnya saya tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang introyeksi.
Introyeksi adalah sebuah mekanisme pertahanan ego. Introyeksi akan membuat seseorang mengambil alih dan “menelan” nilai-nilai standar orang lain. Sebagai contoh, seorang anak yang mengalami penganiayaan, mengambil alih cara orangtuanya menanggulangi stress, dan dengan demikian mengabadikan siklus penganiayaan anak.
Introyeksi tentu juga dapat bersifat positif. Introyeksi terjadi dalam kondisi tertentu sesudah terbentuknya kerja sama antara dua orang atau lebih berdasarkan simpati. Dalam hal ini, interaksi yang terjalin bisa antara anak dan orangtua. Sang anak akan meniru nilai-nilai orangtuanya. Lalu, ketika hubungan itu terputus karena meninggal atau jarak yang memisahkan, nilai itu dapat tetap lestari.
sumber: di sini dan di sini


Yayaya. Membaca artikel-artikel tentang introyeksi membuat saya berpikir ulang. Mungkin saya memang introyeksi ^^a

Sumber gambar dari sini

Lantas, kalau tadi malam saya memilih untuk kembali mengambil arah putar balik yang menuntut saya melawan arus kendaraan, apakah artinya saya tak lagi mengalami introyeksi? Atau jangan-jangan ini sebentuk
denial agar saya tidak dibilang introyeksi? Hehe.

Sederhananya, saya hanya ingin cepat sampai rumah karena awan mendung sudah membawa pertanda akan turunnya hujan malam ini, kok. ^^.


***

di balik 3 jendela,
23 September 2012 pk. 23.48 wib
dan satu bulan pun berlalu...