July 07, 2013

Kado Terindah

Sore tadi saya berkunjung ke rumah seorang kawan. Saya berencana mengembalikan barang yang saya pinjam sebelumnya. Kawan saya sebenarnya tidak ada di rumah. Tapi saya tetap memutuskan ke rumahnya. Saya pikir ini lebih baik dibanding dia yang harus ke rumah saya, tentu akan merepotkan. Toh di rumahnya ada Sang Bunda yang sudah saya kenal dengan baik.

Kedatangan saya disambut oleh ibu kawan saya tersebut. Kalau saya tak salah hitung, rasanya sudah hampir setahun saya tak berjumpa dengan beliau. Sebelumnya beliau sempat terserang strok ringan. Maka, ketika saya mendapati ibu kawan saya ini tampak jauh lebih sehat dibanding hari-hari yang lalu, saya menjadi begitu senang. Allah sebaik-baik Penyembuh.

Saat itu saya tak menyangka bahwa suasana begitu cepat berubah menjadi sedemikian melankolis.

Awalnya kami saling bertukar kabar. Ini tentu bukan sekadar basa-basi. Di dalam tanya tentang kabar itu sejatinya terkandung rasa syukur atas kehidupan yang terjalani. Tak lama berselang, saya menemukan mata Sang Bunda mulai berkaca-kaca. Tepatlah dugaan saya. Beliau teringat kondisi saya yang memang tak lagi memiliki orangtua. Rasa iba yang mendalam tergambar dari airmatanya yang perlahan menetes.

Saya terdiam sejenak. Saya mencoba melemparkan senyum yang terasa getir. Mata saya mulai memanas. Yaa Rabb, saya tak ingin menangis di depannya. Saya sesungguhnya ingin sekali mengatakan dengan lantang bahwa saya baik-baik saja. Saya tak sendiri, masih ada kakak-adik serta saudara yang senantiasa mendukung dan menguatkan langkah saya. Namun, suasana haru begitu cepat merasuk ke dalam kalbu. Speechless.

"Alhamdulillah keluarga udah bisa menerima kondisi ini, Bu," ujar saya sambil mencoba menahan airmata air tak tumpah.

Saya lalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Obrolan sempat teralihkan seputar pekerjaan dan bercerita tentang kondisi kesehatan ibu kawan saya. Tak lupa terselip pertanyaan umum seputar kapan saya menggenapkan separuh Dien. Suasana sejatinya belum benar-benar kembali normal. Saya masih juga memendam haru, apalagi saat ibu kawan saya ini terdiam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang setimpal dengan pertanyaan "kapan menikah?". Ah, ini tentu kesalahan saya. Bahwa saya tak bisa dengan segera menangkap apa yang ingin ia disampaikan mengingat efek strok masih membuatnya kesulitan berbicara.

"Sudah punya pacar?" begitu pertanyaan yang akhirnya diajukan.

Saya tersenyum. Tersadar bahwa suasana mellow ini tak hanya disebabkan karena rasa iba Sang Bunda akan kondisi saya saat ini, tetapi juga karena saya yang memang mudah sekali terenyuh dengan sosok perempuan yang begitu keibuan di hadapan saya. Mungkin, saya merindukan masa-masa berbincang dengan  ibu saya sendiri.

"Belum. Mohon doanya aja yaa Bu," pinta saya.

"Iya. InsyaAllah pasti datang. Allah sudah siapkan," katanya lembut.

Keharuanpun hadir kembali.

Tak sampai lima belas menit saya di sana, saya akhirnya memutuskan untuk pamit pulang. Sesungguhnya saya ingin sekali berbincang lebih lama dengan beliau. Tapi kondisi kami berdua sepertinya tidak cukup baik. Ibu kawan saya sesekali masih meneteskan air mata saat memandang wajah saya. Sayapun tak sanggup berlama-lama menahan bendungan airmata. Saya tak ingin larut.

Sesampainya di rumah, saya sempat mampir sejenak ke rumah saudara, menyeruput es kelapa muda bersama tante dan sepupu saya. Hari ini tante saya ulang tahun. Tanggalnya sama dengan kelahiran saya. 7 Juli.

Saya lalu pulang. Dan memutuskan untuk tidur sejenak hingga waktu maghrib. Kegiatan menangis -entah kenapa- selalu saja membawa efek lelah dan mengantuk buat saya. Mungkin itu juga yang membuat saya "benci" dengan aktivitas yang satu itu.

Saat waktu shalat maghrib tiba, saya terbangun. Air mata saya tumpah lagi. Faktor utamanya karena saya bermimpi dan dalam mimpi tersebut saya mendengar suara ayah memanggil-manggil nama saya -mungkin menyuruh saya sholat-. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya bermimpi tentangnya. Meski kali ini hanya suara ayah yang terdengar, tapi saya sudah begitu puas. Saya pikir, ini adalah kado terindah yang Allah berikan di hari ulang tahun saya.

Sesungguhnya sejak tiga tahun yang lalu saya tak terlalu menspesialkan hari lahir. Saya memutuskan menganggapnya sebagai hari-hari yang biasa. Sayapun tak lagi mengucapkan milad ke teman-teman yang berulang tahun. Terkadang kita memang butuh momen untuk saling berkirim doa dan memberi hadiah. Tapi, di hari lainpun sebenarnya bisa juga dilakukan.

Hanya, saya tetap tak bisa menafikan bahwa keluarga besar saya menganggap hari ulang tahun itu sebagai hari yang spesial. Tentu tak ada tradisi tiup lilin atau pesta yang berlebihan. Hari ulang tahun biasanya diisi dengan syukuran, kumpul-kumpul keluarga, makan-makan, dan memberikan doa terbaik kepada yang berulang tahun.

Di keluarga saya sendiri, ayah selalu menjadi orang pertama di rumah yang memberikan ucapan milad. Kadang, ia mengawalinya dengan sebuah pesan singkat di handphone. Atau langsung memberi ucapan selamat saat matahari mulai terbit. "Selamat ulang tahun, Cantik," katanya sambil mengecup kening saya.

Ini adalah tahun pertama saya kehilangan "ritual" milad tersebut. Dan rasanya sedih sekali.


***
di balik 3 jendela,
7 Juli 2013 pk. 23.55 wib
Terima kasih atas doa terbaik yang dihaturkan oleh keluarga dan sahabat kepada saya hari ini.
Semoga Allah mengabulkan.

1 comment:

  1. Peluk ai..

    Selamat milad ya cantik.. ^_^

    ReplyDelete

Makasih atas kunjungannya... Sila sila tinggalkan komentar di sini ^^