Racauan penyendiri
perdengarkan suara batin
ketika hingar bingar membius waktu
teruskan kesahmu tak peduli acuh
tak sadar maknanya terkorosi ego
kita tak pernah berubah
kebenaran seperti rahasia
kehidupan di tangan pertapa
terasa dekat tapi tak cukup sadar
dan kenyataan selalu kau nafikan dengan angan
ya begitulah terus, biar didengar, pikirnya
sayangnya, kami manusia, bukan burung
berbicaralah dengan kebijaksanaan manusia
jika ingin dimanusiakan
![]() |
foto dari sini: http://info.farrleadership.com/ |
Saya takjub sendiri dengan puisi yang saya temukan di halaman belakang note book saya. Bukan betapa bagusnya untaian kata yang terjalin, tapi lebih pada ketidakpahaman saya dengan makna yang terkandung dalam puisi tersebut. Diksi yang dipakai pun seperti jauh dari gaya menulis saya. Seolah puisi itu memang racauan asal lalu.
Entah kapan dan di mana puisi itu dibuat. Kalau melihat halaman-halaman awal buku itu, sepertinya ditulis tahun 2009. Dan sepertinya sayapun bisa sedikit menebak apa yang melatarbelakangi puisi itu dibuat. Mungkin tentang kritikan pada sang pemimpin kala itu.^^v
***
di balik 3 jendela,
2 September 2012 pk. 23.50 wib
tulisan masa lalu memang sering bikin kita kaget sendiri yah kak... Plus, membawa ingatan ke kenangan masa lalu. Ah, tulisan memang media yang baik untuk mengabadikan kenangan :')
ReplyDeletebetul betul
Deleteaku kalo lagi kumat abstraknya suka bikin coretan semacam puisi gitu, rif. tapi kalo dibaca lagi sekarang malah ga ngerti maksudnya :D