September 14, 2012

Salah Timing

Ada yang menarik ketika saya menyampaikan materi tentang al wala' dan al bara' dalam sebuah lingkaran Sabtu pekan lalu. Saat itu, saya menyinggung tentang sebuah ayat yang berkaitan dengan tema tersebut.

"Yaa ayyuhalladzi na aamanuu atii'ullaha wa atii'urrosul, wa ulil amri minkum..." - QS an Nisaa': 59

"Perhatikan, deh! Ada pelafalan yang beda dalam ayat ini," ujar saya. "Atii'ullaha wa atii'urrosul wa ulil amri, bukan atii'ullaha wa atii'urrosul wa atii'u ulil amri. Jelas kan yah, bedanya?" tanya saya kemudian. Adik-adik dalam lingkaran mengangguk sepakat. "Jadi, yang utama itu memang kita mentaati Allah dan Rasulullah saw dulu. Tapi kepada pemimpin kita, boleh jadi tidak berlaku hal yang sama. Kita tidak berkewajiban untuk mentaati pemimpin yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Nah, maka sebaiknya pemimpin itu bukan yang nonmuslim," terang saya. (Penafsiran ini saya dapatkan dari seorang ustadz melalui rekaman KRPH bulan Maret 2012 dengan tema yang sama.)

Lalu tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Wah, kampanye, nih!"

Eh?

Saya tak menyangka bakal "tertuduh" seperti itu. Heran juga. Kok bisa-bisanya dikaitkan ke soal kampanye? Padahal Si Adik ini tampak cukup unyu untuk membahas seputar politik, loh! ^^v Yaa memang sih, isu SARA yang mewarnai pilkada ibukota saat ini sedang mengemuka. Tapi aseli deh, saya nggak ada niatan sekalipun buat kampanye terselubung dalam lingkaran tersebut. Ayat itu saya hadirkan karena memang berkaitan dengan konsep al wala' itu sendiri. Sedang penjelasan tentang ketaatan kepada pemimpin yang muslim lebih kepada sebuah konsep umum tentang 'ulil amri.

Tak membuatnya jadi berlarut-larut -Toh Si Adik inipun memang nggak ada niatan untuk menuduh atau semacamnya. Mungkin hanya sekadar lintasan pikiran yang muncul.- Saya lantas melanjutkan diskusi sesuai tema yang sedang dibahas.

Tapi sejujurnya otak saya tak berhenti memikirkan kejadian tersebut.

Saya jadi teringat berita yang marak tersiar beberapa waktu yang lalu. Tentang seorang penyanyi sekaligus pendakwah yang dituduh telah berkampanye di tempat peribadatan. Saya seolah bisa merasakan apa yang beliau rasakan. Inginnya hanya menyampaikan tausiyah. Tak ada maksud untuk berkampanye, begitu klarifikasinya. Tapi masyarakat sudah terlanjur menuduhnya memanfaatkan majelis yang ada untuk berkampanye mendukung salah satu calon gubernur.

Oh, okelah, agak bias memang jika yang dicontohkan beliau ini. Pembelaannya atas nama dakwah memang kurang kuat mengingat ia sendiri pernah tampil mendukung calon gubernur tersebut. Lalu, bagaimana dengan ustadz lain yang mendapat tuduhan yang sama?

Tausiyah yang disampaikan memang berbeda. Medianya pun beda. Tapi sama-sama nggak sebut merk-karena saya sih tsiqoh kalau mereka memang tak bermaksud menyindir seseorang atau segolongan tertentu- Sayang, ujung-ujungnya yaa dituduh juga. Hadeeeuh.. ^^"

"tapi ingat tad substansi & timing anda bcr spt itu. jgn pikir kita ini bodoh." Begitu salah satu balasan atas kicauan Sang Ustadz yang dianggap menyudutkan salah satu calon gubernur. Kemudian dibalas lagi dengan bijak oleh Sang Ustadz, seperti ini: "wooo... Maaf ya. Maafin saya. Ga mikir gitu koq." Tapi entah karena sulitnya berhusnudzan kepada saudara seiman atau alasan lainnya, tuduhan itu tetap saja tak kunjung mereda.

Hmmpf...

Bagi saya, ini bukan salah timing-nya. Kadang, permasalahannya justru terletak pada diri kita yang suka mencocokkan antara suatu kejadian dengan tausiyah yang disampaikan, meski pesan tersebut sebenarnya disampaikan untuk konteks yang umum. Ke depan, saya hanya berharap, jangan sampai kita takut menyerukan kebaikan hanya karena tak ingin dianggap pendukung calon yang satu atau dituduh oleh calon yang lain. Dan jangan sampai kita berhenti menyampaikan nasehat hanya karena takut salah penempatan waktu.


***
di balik 3 jendela,
10 September 2012 pk. 12.25 wib
ada hal-hal yang seringnya kita nggak tahu. termasuk tentang apa yang ada di dalam hati.

4 comments:

  1. wah... iyayaya ada sikap jelek juga kalau kita mengait2kan sesuatu
    dan yap nasehat itu kalau memang kontainnya adalah suatu hal yang baik maka ia tidak menjadi jelek hanya karena salah timing

    wah mencerahkan nih mbak Ai nih hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. a ha! you've got the point, nas! ^^b

      Delete
  2. sepakat daaah
    jangan yang nonmuslim
    #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. sayangnya.... *males lanjutinnya u_u

      Delete

Makasih atas kunjungannya... Sila sila tinggalkan komentar di sini ^^